|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 14:43 |
|
Sejarah marawis Marawis adalah nama bagi sebuah alatmusiktradisional yang dimainkan untuk mengiringilagu-lagu yang saratdengan pesan-pesan dakwah Islam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hingga kini belum ditemukan adanya penelitian ilmiah-historis ataupin data yang memadai untuk menjadikan bahan rujukan kapan sebetulnya kesenian Marawos ini berkembang dan siapa yang memeloporinya. Sumber-sumber yang bisa menjadi rujukan histori marawis baru terbatas pada sumber-sumber lisan (oral). Konon kabarnya, Marawis dipopulerkan oleh para Haba’ib (anak cucu keturuna rasulullah SAW) dan merupakan produk kebudayaan bangsa Arab. Tak Heran, bila lagu-lagu padang pasir (baca:berbahasa Arab). Secara Umum, dapat dikatakan bahwa marawis pada awalnya merupakan inovasu cara berdakwah umat Islam denga pencapuran kebudayaan (akultirasi). Cara-cara berdakwah seperti ini (baca : mengguanakan kesenian dan proses akulturasi) sebetulnya juga pernah diterapkan beberapa abad yang silam oleh para Wali Songo sebagai penyebaran Islam di tana jawa, seperti Sunan Bonang yang terkenal dengan Bonang-nya, Sunan Kalijaga dengan lagu ilir-ilirnya dan Sunan Ampel dengan lagu Tombo Ati-nya. Seiring perkembangan zaman, kesenian marawis ini dikembangkan dan dilengkpi dengan menggunakan alat musik modern seperti gitar elekrik, organ , cymbal, drum, suling dll. Marawis pls alat-lat musik modern ini kemudian diistilahkan oleh banyak pelakunya sebagai kesenian Gambus. |
|
|
Written by Administrator
|
|
Saturday, 08 August 2009 07:55 |
|
Di saat kita berhenti mencari alasan, saat itulah kita melangkah maju |
|
Last Updated ( Saturday, 08 August 2009 08:07 )
|
|
|
Mengenal Lebih dekat Al-Awwabin |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 07 July 2004 09:54 |
|

Berawal di tahun 1988, seorang ulama kharismatik dari betawi yaitu Abuya KH. Abdurrahman Nawi berkeinginan untuk membuka suatu Pondok Pesantren yang kebetulan di kediaman beliau sendiri, di Depok. Alasannya, ingin mengembangkan dakwah Islam di tengah zaman yang semakin keropos akhlaknya. Cita-cita itu lalu diprosesnya dengan bermusyawarah bersama keluarga dan kerabat dekat tentang keinginan beliau, “ternyata teman saya pun sangat mendukung akan cita-cita saya” ujar kiayi yang biasa dipanggil abuya ini. Pada tahun 1989 terwujudlah cita-citanya untuk membangun sebuah Pondok Pesantren meskipun belum resmi. Pada tanggal 10 bulan Oktober tahun 1989 diresmikanlah Pondok Pesantren oleh Menteri Agama, Munawir Sadzali dan Ketua PBNU saat itu KH. Idham Chalid sekaligus diberi nama yaitu Pondok Pesantren Al-Awwabin yang bertempat di Pancoran Mas Depok. Pada tahun 1990, pertama kali dibuka penerimaan santri baru untuk angkatan pertama yang kira-kira berjumlah 30 santri. Lambat laun santri di Pondok Pesantren Al-Awwabin meningkat sampai kira-kira 200 santri. Akan tetapi di dalam hati beliau rasanya belum cukup membuka Pesantren satu cabang saja. Akhirnya, beliau berinisiatif membuka cabang yang kedua di Desa Perigi, Sawangan yang di khususkan untuk santriwati. Sampai sekarang para lulusannya menyebar luas ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Sekitar ribuan alumni sudah terjun ke masyarakat untuk berdakwah menegakan kalimat tauhid dan menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamiin. Kepada santri-santrinya yang berdakwah Abuya berpesan “jaga akhlakmu dimana saja kau berada dan teruslah berdakwah dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, sebab satu orang yang mendapat petunjuk dari Allah sebab kamu, itu sesungguhnya lebih baik dari dunia dan segala isinya”. |
|
Last Updated ( Friday, 11 July 2008 00:14 )
|
|
Read more...
|
|
|